Sumatera Barat nan Cantik : Bukit Tinggi dan Sekitarnya |
Written by Irwin Ismail | |||||||||||||||||
Monday, 18 April 2005 | |||||||||||||||||
Bukit Tinggi dan sekitarnya Air terjun Lembah Anai Air terjun ini terdapat sekitar 10 km di pinggir jalan antara Padang Panjang menuju Padang. Air terjun ini sungguh mempesona, dengan ketinggian sekitar 40-50 meter dari atas sebuah bukit yang di tumbuhi pepohonan dengan lebat. Disisi lain jalanan, terdapat rel kereta yang memiliki rel gerigi di tengah, karena rel kereta itu berada di jalur yang mendaki. Untuk menyeberang dari satu sisi ke sisi lainnya, harap ekstra hati2, karena kendaraan ramai dan melaju dengan kencang. Sate mak Sukur dengan layanan nya yang instant hanya berjarak 7 km kearah Padang Panjang. Diseberang jalanpun terdapat resto padang yang makanan spesifiknya gulai itik hijau dan gulai tunjang (kikil). Terus lagi kearah Padang Panjang, anda bisa membeli oleh2 kue Bika yang terdapat di sebelah kanan jalan. Terletak di tengah kota Bukit Tinggi, Panorama menyajikan pemandangan ke Ngarai Sianok. Di lokasi ini kita juga bisa menemukan lobang Jepang (terowongan) yang untuk beberapa orang dirasakan mengerikan, karena menyusur lubang gua yang konon memakan ratusan jiwa saat pembuatannya dulu. Terowongan ini di bangun tahun 1942 dan turun menyusur di bawah kota dengan total panjang 4,5 km, dan bisa tembus ke ngarai Sianok !. Didalamnya kita bisa melihat ruang rapat, ruang amunisi, dapur, ruang tahanan, sampai ruang penyiksaan! Jam Gadang Tidaklah lengkap kiranya jika anda tidak pergi ke Jam Gadang saat di Bukit Tinggi. Mungkin bisa di samakan dengan anda ke Jakarta tapi tidak pergi ke Monas. Jam Gadang ini berada di pusat kota Bukit Tinggi dimana disalah satu sisinya terdapat Pasar di Atas. Banyak cindera mata yang dijual disana, mulai dari sandal kulit buatan tangan, genta kecil khas Bukit Tinggi untuk dipasang di pintu, mukenah dihiasi sulaman tangan, kain songket khas Minangkabau… dan sejuta pernik2 lainnya. Bagi para ibu2 pendatang, jelas ini adalah sorga mereka di Bukit tinggi. Belanja dan belanja.. ! semuanya dirasakan murah jika dibandingkan dengan harga2 barang2 tersebut jika di beli di Jakarta, bahkan harganya ada yang seperlima harga Jakarta – sebelum ditawar! Berlawanan arah dari Pasar di Atas, terbentang gunung Singgalang dengan megahnya dan disebelah kirinya terlihat gunung Merapi. Bagi para suami yang bosan menemani istrinya, sekedar duduk2 di Jam Gadang sambil memperhatikan keadaan sekeliling juga bisa menimbulkan inspirasi yang sering macet saat kerja di kantor. Sederet dengan pasar, terdapat restoran padang yang enak. Mungkin anda ingin mencoba rasa teh telor yang unik?. Mintalah pada pramusajinya, dan rasakan sensasinya dilidah anda. Tapi jika anak2 tidak kuat melahap masakan padang yang pedas itu, juga ada alternatif restoran ayam cepat saji di dekatnya. Benteng Fort de Kock
Bagi anak2, melihat binatang disini memang menyenangkan suasananya. Lingkungan taman yang sejuk dan bersih juga bisa membuat kita lupa akan waktu. Dari jembatan yang terbentang di atas jalan raya ini, kita juga bisa memandang gunung Singgalang dari sudut yang berbeda. Ikan Sakti / Larangan, Baso – Sungai Janiah Di jalan antara Bukit Tinggi menuju Payakumbuh (kearah timur), terdapat satu danau kecil dengan latar belakang bukit yang curam. Jaraknya hanya sekitar 20 Km dari Bukit Tinggi. Dibukit itu terdapat monyet2 liar yang cukup jinak. Diatas puncak bukit itu, menurut keterangan penduduk lokal, terdapat mata air yang tidak pernah kering, dan dipercaya masyarakat lokal berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Untuk mendakinya, bisa memakan waktu 2 jam, walaupun terlihat sangat dekat, tapi jalannya amat curam. Mungkin dari mata air inilah air itu mengalir ke danau dibawahnya, dimana terdapat ikan Sakti / larangan ini. Menurut legenda, ikan ini dulunya berasal dari seorang anak kecil yang tenggelam di danau, dan menjelma menjadi ikan. Karena inilah ikan2 itu tidak ada yang berani menangkap, apalagi memakannya. Pada lebaran Haji – cerita penduduk lokal itu – akan keluarlah ‘raja’ ikan2 itu dari sebuah lobang di sudut telaga dan ikan2 lainnya akan berenang mengelilingi sang raja. Ukuran ikan raja ini pun luar biasa, seukuran orang dewasa !. Setelah berenang mengelilingi telaga, maka sang raja tersebut akan kembali masuk ke lubang lainnya di telaga itu. Cerita ini rasanya menggelitik untuk dibuktikan. Sebagai tambahan, bentuk ikan ini mirip dengan ikan mas yang besar dan seukuran paha orang dewasa.
Perhatikanlah dengan baik, dan anda akan bisa melihat perbedaan kedalaman danau dari ketinggian 1118 meter ini. Sekitar 100 meter keluar dari area embun pagi kearah danau, anda akan bertemu dengan kelok 44 yang terkenal itu. Sekitar 20 kelokan pertama akan anda lalui dengan mudah, karena jalanannya yang dulu sempit sepertinya sekarang telah diperlebar. Kalau tidak salah ingat, mulai tikungan ke 30an, anda akan mulai menemui monyet2 yang kadang berlari mengejar mobil anda untuk meminta makanan. Mungkin ada baiknya kaca mobil ditutup, untuk menghindari sesuatu yang tidak di inginkan.
Biasakan untuk membunyikan klakson pada setiap tikungan, karena kita tidak bisa melihat apa ada kendaraan lain dari arah depan. Suhu udara pun bisa anda rasakan berubah secara drastis, yang tadinya sejuk dingin berubah menjadi hangat. Setelah tikungan terakhir (tikungan paling bawah di nomori mulai dari 1 sampai nomor 44 di puncaknya), anda boleh cukup berbangga dengan keahlian menyetir anda. Dan sekarang danau Maninjau yang anda lihat dari atas tadi bisa anda nikmati sepuasnya. Banyak terdapat hotel / penginapan disini, tentunya juga restorannya. Juga terdapat ‘villa terapung’ dimana setiap villa terdapat diatas danau. Konstruksinya mungkin mirip2 dengan keramba2 apung di waduk Cirata, Jabar. Jika anda beruntung, anda bisa menikmati ‘bada itam’ (ikan hitam) yang khas dari danau Maninjau. Digoreng balado kering, wahh.. nikmat sekali rasanya!. Ketinggian di tempat kami berhenti tercatat 460 meter, dilokasi yang agak terbuka ini (0o 17.162’ – 100o 13.524’), anda bisa turun ke danau sekedar mencelupkan kaki ke airnya yang bening. Ada peringatan halus kami dapatkan dari penduduk lokal supaya kalau hendak berenang, tidak jauh2 ketengah, karena kelandaiannya bisa berubah mendadak menjadi curam. Sebaiknya anak2 terus diawasi dengan ketat oleh orang2 dewasa untuk menghindari kejadian yang tidak di inginkan.
Untuk hotel, ada cerita lumayan lucu: saat kami ingin check in di Bukit Tinggi, kami tanyakan ke resepsionisnya : apakah kamar hotel di lengkapi dengan AC?. Dua orang resepsionis (dari 2 hotel berbeda) melihat kearah kami dengan wajah lucu. Hotel ketiga, resepsionisnya yang manis menjawab sambil senyum ditahan, jawabnya: ‘.. Bukit Tinggi ini sudah dingin pak..’. Jadi, barulah kami menyadari ‘kesalahan’ pertanyaan kami itu. Maklum, saat itu kami baru turun dari mobil ber AC. Dari 3 hotel yang kami datangi, tarif hotel berkisar dari Rp 175 rb keatas. Guest house juga tersedia, dan tarifnya berkisar mulai dari Rp 60rb (kamar mandi diluar) – Rp 100rb (kamar mandi didalam). Kondisinya pun bersih dan cukup memuaskan, dan dekat untuk pergi kemana-mana karena lokasinya berada ditengah kota!. Kebersihan kota ini pun terjaga, walaupun rasanya tidak sebersih tahun 1990 saat kami pergi kesana. Waktu itu, kami ingat pernah membawa-bawa puntung rokok saat jalan2 kaki sampai ke hotel, saking bersihnya jalanan saat itu!.
Set as favorite
Bookmark
Email This
Hits: 4119 Trackback(0)
Comments (5)
pado said:
Lizen said:koergas said:
koergas said:
B katik Sulaiman said:
Write comment
You must be logged in to a comment. Please register if you do not have an account yet.
|
|||||||||||||||||
Last Updated ( Friday, 29 April 2005 ) |